Dalam rangka mencari Akar Masalah Ekstremisme pada anak bukanlah pilihan pribadi untuk menjadi jahat, melainkan bentuk eksploitasi dan "pencurian masa kecil". Radikalisasi berawal dari kekosongan jiwa—seperti rasa terasing, trauma, pengabaian, dan kebutuhan akan rasa diterima (sense of belonging).
​Modus Operandi: Kelompok ekstremis masuk dengan menyamar sebagai pelindung atau keluarga baru. Doktrinasi dilakukan secara bertahap melalui media sosial atau interaksi langsung dengan cara:
​Membagi dunia secara dikotomis ("kita" vs "mereka").
​Mengikis empati melalui narasi penderitaan (victimhood) berulang.
​Memanipulasi jiwa kepahlawanan anak agar memandang aksi ekstrem sebagai keberanian.
​Status Anak: Anak-anak yang terlibat dalam aksi radikal adalah korban sebelum menjadi pelaku. Mereka dieksploitasi oleh orang dewasa yang memanfaatkan ketidak matangan emosional serta kognitif mereka.
​Solusi & Pemulihan: Memutus rantai ekstremisme membutuhkan pendekatan kemanusiaan yang komprehensif, meliputi:
​Pendampingan psikologis dan rehabilitasi untuk melepaskan trauma.
​Peran aktif keluarga dan sekolah dalam memberikan pengasuhan yang hangat serta pendidikan kritis.
​Penerimaan dan kesempatan kedua dari masyarakat tanpa stigma.Pertemuan dengan Densus 88,Sekban KesbangPol Amrizal Rengganis didampingi Kabid Kewaspadaan Gustian,senin(19/10)